HAKIKAT
DAN PROSES MEMBACA
A. Hakikat Membaca
Bagi masyarakat yang hidup dalam babakan pasca industri, atau yang
lazim disebut era sumber daya manusia, atau era sibermatika, seperti sekarang
ini, kemahiran membaca dan menulis atau yang lazim disebut literacy memang
telah dirasakan sebagai conditio sine quanon alias prasyarat mutlak yang tidak
dapat ditawar-tawar lagi. Sebagai sebuah bukti, konon para ahli ekonomi telah
membuat prakiraan bahwa kehidupan perekonomian mendatang akan menemukan sumber
kekuatannya pada kegiatan-kegiatan yang bertalian dengan suatu sumber daya yang
hanya ada pada manusia, yakni daya nalarnya. Sebab daya nalar tersebut
merupakan sumber utama yang dimiliki oleh manusia untuk berkreasi dan
beradaptasi agar mereka mampu memacu kehidupan dalam jaman teknologi yang
semakin canggih dan berkembang ini. Nalar manusia akan berkembang secara
maksimal jika ia diasah melalui pendidikan. Dan jantung dari pendidikan adalah
kegiatan berliterasi atau kegiatan baca-tulis. Dengan demikian kedudukan
kemahiran berliterasi pada abad informasi seperti sekarang ini sesungguhnya
merupakan modal utama bagi siapa saja yang berkehendak meningkatkan kemampuan
serta kesejahteraan penghidupannya.
Dalam dunia pendidikan kemahiran berliterasi merupakan hal yang
sangat fundamental. Sebab semua proses belajar sesungguhnya didasarkan atas
kegiatan membaca dan menulis, juga dengan melalui kegiatan literasi membaca dan
menulislah kita dapat menjelajahi luasnya dunia ilmu yang terhampar luas dari
berbagai penjuru dunia dan dari berbagai babakan jaman. Dengan demikian, dunia
pendidikan dan persekolahan memiliki tugas untuk mengupayakan kehadiran salah
satu aspek keterampilan berbahasa ini kepada para siswanya.
Hingga saat ini cukup banyak pengertian atau definisi yang telah
dikemukakan oleh para pakar tentang membaca. Dari berbagai pengertian dan
definisi membaca tersebut kita dapat mengklasifikasikan ke dalam tiga kelompok
besar. Pertama, pengertian membaca yang ditarik sebagai interpretasi pengalaman
membaca itu bermula dengan penemuan waktu dan berawal dengan pengelolaan
tanda-tanda berbagai benda (membaca itu berawal dengan tanda dan pertanda).
Kedua, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari interpretasi lambang
grafis; membaca merupakan upaya memperoleh makna dari untaian huruf tertentu.
Dan ketiga, definisi atau pengertian membaca yang ditarik dari keduanya, yakni
membaca merupakan perpaduan antara pengalaman dan upaya memahami lambang-lambang
grafis atau dari halaman bercetakan. Jika dihubungkan dengan masalah
pembelajarannya, setiap definisi-definisi membaca tersebut sudah barang tentu
senantiasa berimplikasi. Sebagai seorang guru atau calon guru kita perlu
memahami implikasi-implikasi tersebut.
B. Membaca Sebagai Proses
Membaca bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri, melainkan
suatu sintesis berbagai proses yang tergabung ke dalam suatu sikap pembaca yang
aktif. Proses membaca yakni membaca sebagai proses psikologi, membaca sebagai
proses sensori, membaca sebagai proses perseptual, membaca sebagai proses
perkembangan, dan membaca sebagai proses perkembangan keterampilan.
Sebagai proses psikologi membaca itu perkembangannya akan
dipengaruhi oleh hal-hal yang sifatnya psikologi pembaca, seperti intelegensi,
usia mental, jenis kelamin, tingkat sosial ekonomi, bahasa, ras, kepribadian,
sikap, pertumbuhan fisik, kemampuan persepsi, tingkat kemampuan membaca. Di
antara faktor-faktor tersebut menurut Harris (1970), bahwa faktor terpenting
dalam masalah kesiapan membaca yaitu intelegensi umum.
Membaca sebagai proses sensoris mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca itu dimulai dengan melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Setelah dilakukan pemaknaan atau pengucapan terhadapnya. Pernyataan “membaca sebagai proses sensoris” tidak berarti bahwa membaca merupakan proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau secara serempak.
Membaca sebagai proses perseptual mengandung pengertian bahwa dalam membaca merupakan proses mengasosiasikan makna dan interpretasi berdasarkan pengalaman tentang stimulus atau lambang, serta respons yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang tersebut. Membaca sebagai proses perkembangan mengandung arti bahwa membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kita tidak tahu kapan perkembangan mulai dan berakhir. Sedangkan proses membaca sebagai perkembangan keterampilan mengandung arti membaca merupakan sebuah keterampilan berbahasa (language skills) yang sifatnya objektif, bertahap, bisa digeneralisasikan, merupakan perkembangan konsep, pengenalan dan identifikasi, serta merupakan interpretasi mengenai informasi.
Membaca sebagai proses sensoris mengandung pengertian bahwa kegiatan membaca itu dimulai dengan melihat. Stimulus masuk lewat indra penglihatan mata. Setelah dilakukan pemaknaan atau pengucapan terhadapnya. Pernyataan “membaca sebagai proses sensoris” tidak berarti bahwa membaca merupakan proses sensoris semata-mata. Banyak hal yang terlibat dalam proses membaca dan ketidakmampuan membaca bisa disebabkan oleh berbagai faktor yang bisa bekerja sendiri-sendiri atau secara serempak.
Membaca sebagai proses perseptual mengandung pengertian bahwa dalam membaca merupakan proses mengasosiasikan makna dan interpretasi berdasarkan pengalaman tentang stimulus atau lambang, serta respons yang menghubungkan makna dengan stimulus atau lambang tersebut. Membaca sebagai proses perkembangan mengandung arti bahwa membaca itu pada dasarnya merupakan suatu proses perkembangan yang terjadi sepanjang hayat seseorang. Kita tidak tahu kapan perkembangan mulai dan berakhir. Sedangkan proses membaca sebagai perkembangan keterampilan mengandung arti membaca merupakan sebuah keterampilan berbahasa (language skills) yang sifatnya objektif, bertahap, bisa digeneralisasikan, merupakan perkembangan konsep, pengenalan dan identifikasi, serta merupakan interpretasi mengenai informasi.
DAFTAR
PUSTAKA
Burnes
Don and Glenda Page (ed.). (1985). Insight
and Strategies for Teaching Reading. Sydney: Harcourt Brace Jovanovich
Group.
Harris,
L. Theodore (et.al) (ed.). (1983). Dictionary
of Reading and Related Term. London: International Reading Asociation.
Harras
K.A. (1995). Membaca Minat Baca Masyarakat Kita dalam jurnal Mimbar Bahasa dan
Seni No.XXII 1995.
Harjasujana,
A. (1988). Nusantara yang Literat:
Secercah Sumbangsaran terhadap Upaya Pengingkatan Mutu Pendidikan di Indonesia.
(Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada FPBS IKIP Bandung).
Harjasujana,
A. (dkk.). (1988). Materi Pokok Membaca.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Harjasujana,
A, dan Vismaia Damaianti. (2003). Membaca
dalam Teori dan Praktik. Bandung: Penerbit Mutiara.
Olson,
R. David (et.al) (ed.). (1983). Literacy,
Language, and Learning. London: Cambridge University.
Richard
T. Vacca and Jo Annel Vacca. (1987). Content
Area Reading. Boston: Scott, Foresman and Company.
Smith,
Frank. (1987). Understanding Reading: a
Psikolinguistic Analysis of Reading and Learning to Read. London: Lawrence
Erlbaum Asociates Publisher.
Tarigan,
H.G. (1986). Membaca Sebagai Suatu
Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan,
H.G., Kholid dan A. Ruhendi Saefullah (ed.). (1989). Membaca dalarn Kehidupan. Bandung: Angkasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar